BRIN Kembangkan Sistem GWL: Deteksi Dini Kebakaran Lahan Gambut Indonesia
BANDUNG,sambong.id - Ancaman kebakaran lahan gambut di Indonesia kerap kali tidak terlihat di permukaan. Fenomena pembakaran bawah tanah (smoldering) membuat api tetap membara secara perlahan di bawah permukaan tanah meski kobaran di atasnya telah padam.
Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pemantauan tinggi muka air tanah atau Ground Water Level (GWL) sebagai sistem peringatan dini (early warning system).
Dilansir dari situs resmi BRIN, Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, menjelaskan bahwa tingkat kerentanan lahan gambut sangat bergantung pada kelembapan dan kondisi airnya.
Pembangunan kanal pada kawasan perkebunan atau budidaya kerap memicu penurunan muka air tanah secara drastis, sehingga lapisan gambut mengering dan mudah terbakar.
“Mengapa lahan gambut bisa terbakar? Karena lahan gambut sangat kering. Ketika kondisi gambut kering, air tidak lagi cukup untuk menjaga kelembapannya,” ujar Albertus dalam acara Coffee Morning Peat Wildfires di Bandung, Jumat (28/8).
Ia menambahkan, proses smoldering memiliki laju pembakaran yang lambat tetapi berdurasi panjang serta merambat hingga lapisan dalam. Karakteristik ini membuat proses pemadaman dan deteksi visual langsung di lapangan menjadi sangat sulit tanpa bantuan teknologi modern.
Fungsi Strategis Teknologi GWL dan Perlindungan Ekosistem
Inovasi pemantauan GWL yang digagas BRIN bekerja secara harian di berbagai wilayah Indonesia dengan mengintegrasikan pemantauan tinggi muka air, teknologi penginderaan jauh, dan data satelit.
Data yang terkumpul berfungsi untuk memantau perubahan hidrologi gambut, memprediksi potensi timbulnya asap, sekaligus menghitung emisi karbon yang dilepaskan.
Perubahan pada parameter GWL terbukti efektif memberikan indikasi awal sebelum kebakaran hebat terjadi. Saat muka air tanah menurun hingga mendekati titik kritis, potensi kemunculan titik api dan asap dapat dipetakan lebih cepat, memungkinkan tindakan mitigasi diambil sesegera mungkin.
Selain fungsi mitigasi bencana, keberadaan ekosistem hutan rawa gambut yang terjaga kelembapannya memiliki peran strategis bagi stabilitas lingkungan nasional:
- Penyimpan Karbon: Ekosistem gambut yang sehat mampu mengikat dan menyimpan cadangan karbon dalam jumlah masif.
- Modulasi Hujan Lokal: Berdasarkan riset terbaru BRIN, ekosistem gambut berkontribusi langsung dalam siklus pembentukan hujan lokal demi ketahanan iklim.
- Keseimbangan Tata Air: Mempertahankan kadar air gambut mencegah degradasi lahan dan menjaga keseimbangan ekologis wilayah sekitarnya.
Albertus menegaskan bahwa penanganan ekosistem gambut menuntut pendekatan multidisiplin.
“Menjaga gambut tetap basah dan sehat tidak hanya penting untuk mencegah kebakaran, tetapi juga untuk mempertahankan fungsi ekologisnya,” pungkasnya seraya menyebut riset terpadu ini akan dipimpin oleh Pusat Riset Ekologi BRIN bersama lintas unit riset lainnya.

Posting Komentar